Minggu, 08 Juni 2014

Peranan Rumpon


Peranan rumpon terhadap hasil tangkapan

Rumpon merupakan alat bantu penangkapan ikan yang telah dikenal oleh masyarakat nelayan. Rumpon mempunyai konstruksi menyerupai pepohonan yang dipasang/ditanam pada kedalaman tertentu di suatau tempat di perairan laut  yang berfungsi sebagai tempat berlindung, mencarai makan, memijah & berkumpulnya ikan. Sehingga rumpon ini dapat diartikan tempat  berkumpulnya ikan di laut untuk mengefisienkan operasi penangkapan bagi para nelayan. Rumpon merupakan alat bantu  penangkapan ikan yang fungsinya sebagai pembantu untuk menarik perhatian ikan agar  berkumpul di suatu tempat yang selanjutnya diadakan penangkapan.
Fungsi rumpon sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan adalah sebagai berikut:
Ø  Sebagai tempat konsentrasi ikan agar lebih mudah ditemukan & menangkapnya.
Ø  Sebagai tempat berlindung bagi ikan dari pemangsanya.
Ø  Sebagai tempat memijah bagi ikan.
Ø  Banyak ikan2 kecil & plankton yang berkumpul di sekitar rumpon  dimana ikan & plankton tersebut merupakan sumber makanan bagi ikan2 besar.
Sedangkan manfaatnya adalah :
Ø  Memudahkan nelayan menemukan tempatuntuk mengoperasikan alat   tangkapnya.
Ø  Mencegah  terjadinya destruktif fishing, akibat penggunaan bahan peledak dan bahan kimia/beracun.
Ø  Meningkatkan produksi dan produktifitas nelayan.
Bambu dirakit menjadi sebuah kotak / kubus besar. Bila sudah jadi, sekeliling kubus bagian dalam dan luar di ikatkan batang kedondong sampai penuh. Setelah itu di timpa lagi oleh daun kelapa di bagian yang sama. Apabila sudah terisi penuh, mulailah merakit tali tambang sesuai dengan kedalaman. Tambang tersebut di ikatkan di seluruh bagian kubus. Jangan lupa lebihkan sedikit untuk mencapai ke permukaan. Setelah ikatan merata, barulah merakit batu sebagai pemberat hingga kubus bisa sampai ke dasar. Batu dianyam dengan tali rajut agar tidak terlepas atau tergeser apabila arus kencang, pastinya dengan jumlah batu yang agak banyak juga. Apabila batu sudah selesai, ambillah tali tambang yang paling ujung atau yang akan naik ke permukaan. Ikatkanlah ujung tali tambang tersebut dengan Plontang yang sudah disiapkan. Bahan plontang bisa dari busa, box bekas, derigen, atau yang bahan yang bisa mengambang. Plontang ini berguna untuk tanda rumpon diatas permukaan air. Barulah Rumpon buatan sendiri siap diturunkan ke dasar laut. ( Guna menghindari nelayan yang nakal seperti Jaring Gardan dan yang lainnya yang sering memutuskan Plontang, lebih baik masukkan posisi rumpon dalam koordinat GPS. Apabila suatu saat plontang di putus, kita tinggal mencocokkan posisi rumpon dengan koordinat & dapat melihat posisi rumpon dibawah laut dengan bantuan FishFinder / DepthSounder )
Sebelum menurunkan rumpon ke dalam perairan, sebaiknya terlebih dahulu arus dan arah angin diketahui sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dengan pembuatan rumpon seperti ini, dalam waktu 2 minggu rumpon sudah dapat di panen. Ikan yang pertama terlihat adalah Selar, Como, Kembung, Tengkek & Tongkol. Berselang 1 bulan barulah mulai kawanan Kakap Merah, Jenaha, Kuwe bahkan Tenggiri dapat dipancingi di rumpon tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
http://ayatsyam-rustadi64.blogspot.com/2011/05/rumpon-sebagai-rumah-ikan.html (diakses pada tanggal 5 Desember 2013 pukul 10.44 )
http://www.batamfishing.com/ngobrol-oot-out-topic/3052-cara-buat-rumpon.html (diakses pada tanggal 5 Desember 2013 pukul 10.40 )

Lampara


NAMA                  : IKE WULANDURI
NIM                       : L23111008
MATA KULIAH  : TEKNOLGI PENANGKAPAN IKAN

ALAT TANGKAP LAMPARA

PENGERTIAN
Lampara adalah alat penangkapan ikan yang sekilas memang mirip dengan payang. Lampara terbuat dari jaring yang berbentuk persegi empat akan tetapi bagian tengah lebih lebar, terdiri dari sayap dan kantong. Kantong pada lampara tidak lancip tetapi menggelembung. Lampara termasuk dalam klasifikasi pukat kantong, karena lampara seolah-olah memiliki kantong yang menggelembung (Subani, 1989).
Lampara dasar yang berkembang di masyarakat perikanan, banyak mengalami perubahan atau modifikasi bentuk yang menyimpang dari bentuk konstruksi lampara dasar yang asli. Lampara dasar yang dimodifikasi (sesuai dengan standar bentuk baku konstruksi pukat hela/trawl net) banyak dipergunakan oleh para nelayan skala kecil di daerah perairan seluruh Indonesia.

KONSTRUKSI ALAT
Kontruksi lampara dasar terdiri dari dua bagian utama yaitu bagian sayap    (kiri dan kanan) dan bagian kantong. Bagian sayap berperan sebagai jalur penaju atau penghalau udang dan ikan demersal agar cenderung masuk ke dalam kantong. Panjang bagian sayap merupakan dasar penentuan ukuran dari besarnya suatu lampara dasar, semakin panjang maka semakin luas dasar perairan yang dapat disapu.
Bahan, jenis, ukuran dan bentuk komponen masing-masing bagian alat tangkap lampara dasar modifikasi, antara lain :
1.      Bahan jaring Tubuh pukek osoh dan lampara dasar terdiri dari dua yaitu panel atas dan panel bawah. Panel atas terdiri dari empat bagian yaitu sayap, medan jaring atas, badan pukat, kantong dan panel bawah terdiri dari tiga bagian yaitu sayap, badan pukat dan kantong. Bahan terbuat dari benang nilon poly ethylene lazimnya disebut PE Ø 1 mm no. 12 dan warna biru tua. Berikut adalah uraian ukuran masing-masing bagian :
a.       Sayap. Sayap terbagi dua bagian sayap atas dan sayap bawah, panjang sayap atas 6,00 meter dan sayap bawah 6,58 meter. Bagian–bagian lain pada sayap atas dan sayap bawah memiliki ukuran yang sama yaitu lebar bagian depan 3,44 meter, lebar bagian belakang 3,72 meter.
b.       Medan jaring atas. Panjang medan jaring atas yaitu 0,58 meter, lebar depan 5, 10 meter, lebar belakang 4,98 meter, ukuran mata bagian depan dan belakang 2,50 inci, jumlah mata depan 125 buah, jumlah mata bagian belakang 119 buah dan shortening 35,24 persen.
c.       Badan pukat atas dan badan pukat bawah. Kedua panel badan pukat memiliki panjang yaitu 7,48 meter, lebar depan 4,98 meter, lebar belakang 1,46 meter, ukuran mata bagian depan 2,00 inci, ukuran mata belakang 1,00 inci,
d.      Kantong atas dan Kantong bawah. Kedua panel kantong memiliki panjang yaitu 7,50 meter, lebar depan 1,46 meter, lebar belakang 0,56 meter, ukuran mata bagian depan 1,00 inci.

2.      Tali. Tali dibutuhkan untuk membuat dan mengoperasikan lampara dasar, adapun tali yang dibutuhkan serta bahan dan ukurannya adalah sebagai berikut :
a.       Tali ris atas. Jenis tali ris atas adalah poly ethylene (PE) Ø 6 mm No. 6 warna biru tua, arah pilinan tali ke kanan dan panjang tali ris atas adalah 13,50 meter.
b.      Tali ris bawah. Jenis tali ris bawah adalah poly ethylene (PE) Ø 6 mm No. 6 warna biru tua, arah pilinan tali ke kanan dan panjang tali ris bawah adalah 14,27 meter.
c.       Tali pelampung. Jenis tali pelampung adalah poly ethylene (PE) Ø 10 mm No. 10 warna putih, arah pilinan tali ke kanan dan panjang sama dengan panjang tali ris atas 13,50 meter.
d.      Tali pemberat51. Tali pemberet terdiri dari dua utas yaitu tali dengan jenis poly ethylene (PE) Ø 10 mm No. 10 dan jenis poly ethylene (PE) Ø 4 mm No. 4 dan masing-masing berwarna putih, arah pilinan tali ke kanan dan panjang tali sama dengan panjang tali ris bawah 14,27 meter.
e.       Tali penarik. Tali ini adalah penghubung lampara dasar dengan kapal dengan jenis poly ethylene (PE) Ø 10 mm No. 10 warna putih, arah pilinan tali ke kanan dan panjangnya 150 meter.
f.       Tali danleno. Tali antara ujung sayap depan dengan danleno. Tali ini adalah penghubung antara ujung sayap depan dengan danleno, dengan jenis tali adalah poly ethylene (PE) Ø 10 mm No. 10 warna biru tua, arah pilinan tali ke kanan dan panjang 1,50 meter.Tali antara danleno dengan papan rentang Tali ini adalah penghubung antara danleno dengan papan rentang, jenis tali adalah polyethylene (PE) Ø 10 mm No. 10 warna biru tua, arah pilinan tali ke kanan dan panjang 2,50 meter.
3.      Pelampung. Pelampung yang dipakai adalah type Y-8 yang terbuat dari Jenis poly vinyilchloride (PVC) yang dipasang pada bagian sayap dan mulut kantong. Jumlah pelampung yang dibutuhkan Y-8 sekitar 15 buah berbentuk oval dengan berat masing-masing 20 gram.
4.      Pemberat. Pemberat terbuat dari timah hitam atau plumbum (Pb) dengan berat masing-masing ±80 gram dengan jumlah seluruhnya 82 buah dan berbentuk oval.
5.      Danleno. Danleno terbuat dari balok kayu yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 5 cm dan tebal 3 cm.
6.      Papan rentang52. Papan rentang terbuat dari kayu dan dilapisi dengan besi berbentuk persegi dengan ukuran panjang 75 cm, lebar 35 cm dan tebal 4,5 cm dengan berat ±10 kg.
KELENGKAPAN DALAM UNIT PENANGKAPAN IKAN
   Kapal
Kapal yang digunakan untuk pengoperasian lampara dasar yaitu kapal motor yang berkekuatan mesin kurang dari 16 hp dan lebih baik diperlengkapi dengan alat penarik selambar yaitu winch atau capsta (BPPI Semarang  dalam Irvan 1997).
Kapal yang digunakan dalam pengoperasian pukat tarik lampara biasanya relatif kecil dan sederhana dimana panjangnya 9-18 m dengan tipe geladak yang terbuka (Ardidja, 2007).  Kapal yang digunakan pada pengoperasian alat tangkap ini ada 3, yaitu kapal dengan ukuran lebih besar dengan bahan dasar kayu maupun besi, kemudian perahu jaring sebagai pengangkut alat tangkap, dan  perahu sebagai pembawa lampu untuk menggiring ikan (Subani dan Barus, 1989).
  Nelayan
Jumlah nelayan yang dibutuhkan adalah 6 orang dengan pembagian kerja yaitu satu orang sebagai juru kemudi, satu orang juru mesin, satu orang juru masak dan tiga orang pembantu

   Alat Bantu
Menurut Subani dan Barus (1989) alat bantu yang digunakan dalam pengoperasian lampara adalah lampu listrik atau lampu petromaks, tali hela atau tali selambar, serok, dan besi. Lampu listrik atau lampu petromaks untuk menggiring ikan, sedangkan tali hela atau tali selambar digunakan sebagai alat bantu membentuk kantung seperti mangkuk saat proses hauling. Serok digunakan untuk memindahkan ikan dari jaring ke kapal, sedangkan besi digunakan untuk membentuk kantong jaring yang sempurna. Menurut Ardidja (2007) selain itu juga terdapat beberapa nelayan yang menggunakan alat penarik tali selambar yang berupa winch atau kapstan.

METODE PENGOPERASIAN ALAT
Pengoperasian lampara dasar dilengkapi dengan kelengkapan alat pembuka mulut jaring yang berupa papan (otter board) dioperasikan menyelusuri dasar perairan yang dihela di belakang kapal yang sedang berjalan. Penghelaan lampara dasar dengan kecepatan hela sekitar 1-2 knot selama 2-3 jam (Bukhari,2005). Teknik pengoperasian alat tangkap pukek lampara dasar adalah sebagai berikut :
1.       Penurunan pukat (Setting). Penurunan alat tangkap dilakukan dari buritan kapal dengan kecepatan perlahan-lahan dan setelah proses penurunan selesai maka kecepatan di tinggikan. Kapal bergerak maju dan tali selembar diikatkan pada kayu papan yang diletakkan masing-masing dikedua sisi kapal secara mendatar, dengan panjang masing-masing kedua kayu papan kurang lebih 3 (tiga) disesuaikan dengan kedalaman perairan dan kecepatan hela. Penggunaan tali penarik dan pengaturan kecepatan hela dengan tujuan untuk mengatur kedalaman pukat agar dapat menyelusuri dasar perairan.
2.      Penghelaan pukat (Towing). Penghelaan alat tangkap dilakukan di belakang kapal yang sedang berjalan sehingga pukat lampara dasar modifikasi menyelusuri dasar perairan dengan mengikatkan tali penarik penghubung antara alat tangkap dengan kapal pada ujung balok kayu yang dipasang disisi kapal. Penghelaan pukat selama 2-3 jam operasi dengan kecepatan hela sekitar 1-2 knot.
3.      Pengangkatan pukat (Hauling). Pengangkatan alat tangkap lampara dasar modifikasi dilakukan dari buritan kapal dengan menarik tali penarik. Setelah tali penarik ditarik, kemudian pukat lampara dasar diangkat ke atas geladak kapal.
Berdasarkan metode pengoperasian lampara dasar modifikasi di atas kecepatan kapal dalam menarik trawl di dasar perairan tergantung pada target dari tangkapan, penarikan yang terlalu lambat akan menyebabkan papan rentang (otter board) tertutup bersamaan, sehingga mulut trawl akan tertutup juga, sedangkan penarikan yang terlalu cepat akan menyebabkan jaring kelebihan daya angkat, sehingga tidak menyentuh dasar perairan, dan ini tidak baik dalam pengoperasian alat tangkap.
DAERAH PENANGKAPAN
Fishing ground  lampara dasar terdiri dasar perairan yang rata, berlumpur atau berpasir, tidak terdapat benda yang menghalangi atau merusak jaring seperti tonggak sisa bagan dan bangkai dari sisa kapal atau perahu yang rusak, dan terdapat banyak udang
Daerah penangkapan lampara dasar berkisar 0,5 - 1,5 mil dari pantai, dengan kedalaman berkisar 15 - 20 meter, suhu 26 - 28 ˚C dan salinitas 31 – 33 per mil. Alat tangkap lampara dioperasikan di perairan pantai dan teluk-teluk. Hasil pengkapan yang baik umumnya diperoleh pada malam hari dalam keadaan laut tidak bergelombang dan arus yang tidak begitu kuat ( Subani dan Barus, 1989).

HASIL TANGKAPAN
Jenis hasil tangkap lampara dasar adalah ikan-ikan campuran (ikan pelagis dan ikan demersal) yaitu udang putih, udang merah selar kuning (Selaroides leptolepis), kwee (Carangoides ciliarius), selar lazor (Mene maculata), alualu (Spyraena jello), kapas-kapas (Gerres filamentosus), kurusi (Nemipterus hexodon), peperek (Leiognathus equulus) dan ikan kuro (Elautheronema tetradactylum). Ikan kakap, kerapu, bawal, kurisi, beloso, ikan sebelah, ikan lidah.

REFERENSI
Ardidja, S. 2007. Alat Penangkapan Ikan [terhubung berkala]. Http://www.scribd.com/doc/20111075/Alat-Penagkap-Ikan (2 April 2014).
Bukari 2005. Present StatusTrawl di Indonesia. Metode Penangkapan Pukek Osoh Di Muaro Anai Padang Sarai .Kota Padang. Makalah Seminar Departemen Kelautan dan Perikanan . Jakarta
http://rivinia.arindina10.student.ipb.ac.id/2012/01/25/alat-penangkapan-ikan/ (Diakses pada tanggal 2 April 2014 pukul 01.30 wita)
Subani,W dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia Jurnal Penelitian Perikanan Laut Nomor : 50 Tahun 1988/1989. Edisi Khusus. Jakarta : Balai Penelitian Perikanan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Hal. 42-43.

Payang


NAMA                  : IKE WULANDURI
NIM                       : L23111008
MATA KULIAH  : TEKNOLGI PENANGKAPAN IKAN
ALAT TANGKAP PAYANG
A.      Pengertian
Payang adalah pukat kantong lingkar yang secara garis besar terdiri dari bagian kantong (bag), badan/ perut (body/belly) dan kaki/ sayap (leg/wing).
Ayodhya (1981) menyatakan bahwa alat tangkap jaring payang terdiri dari tali, kaki, badan dan kantong. Menurut Sudirman dan Mallawa (2004) alat tangkap payang terbuat dari bahan serat sintetis jenis nylon multifilament.  Panjang jaring keseluruhan bervariasi dari puluhan meter sampai ratusan meter.  Berdasarkan klasifikasi dari FAO, alat tangkap ini digolongkan sebagai jaring lingkar. 
Besar mata mulai dari ujung kantong sampai dengan ujung kaki berbeda-beda, bervariasi mulai dari 1 cm (atau kadang kurang) sampai ± 40 cm. Bagian atas mulut jaring (upperlip) payang yang menonjol ke belakang. Hal ini dikarenakan payang tersebut umumnya digunakan untuk menangkap jenis-jenis ikan pelagik yang biasanya hidup dibagian lapisan atas air atau kurang Iebih demikian dan mempunyai sifat cenderung lari ke lapisan bawah bila telah terkurung jaring.
B.       Konstruksi
Menurut Diktat Manajemen Penangkapan Ikan (2004), alat tangkap payang terbuat dari berbagai bahan, jaring berbahan PVC (Polyvinileclorine), pelampungnya adalah plastik berbentuk bola dan pemberatnya adalah batu.
Struktur alat tangkap ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagian Kantong. Kantong (cod end) adalah merupakan tempat berkumpulnya ikan yang terjaring. Dengan :
§  Panjang : 5-6 meter
§  Mesh size : 0,3-0,6 cm
§  Bahan : PVC ( Polyvinileclorine )
§   Warna : Hijau

2.      Bagian Badan. Badan terdiri atas 6 bagian Dengan :
§  Panjang : 25 meter
§  Mesh size : 1,6-8 cm
§  Bahan : PE (Polyethilene)
§   Warna : Coklat

3.      Bagian Sayap. Payang mempunyai dua bagian sayap yaitu bagian sayap kiri dan bagian sayap kanan.  Konstruksi bagian atas dan bawah dari sayap berbeda ukuran dan bahan dari sayap .
§   Panjang :  bisa mencapai 90 meter
§   Mesh size : 10-30 cm
§   Bahan : PE (Polyethilene) atau  PA
§   Nomor benang : 400 D/15

4.      Tali ris atas (Head Rope) berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, badan jaring (bagian bibir atas) dan pelampung.

5.      Tali ris bawah (Ground Rope) berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, bagian badan jaring (bagian bibir bawah) jaring dan pemberat.

6.       Tari penarik (selambar) Berfungsi untuk menarik jaring selama di operasikan.

7.       Pelampung (float): tujuan umum penggunan pelampung adalah untuk memberikan daya apung pada alat tangkap yang dipasang pada bagian tali ris atas (bibir atas jaring) sehingga mulut jaring dapat terbuka.
§  Berat : 2 ons
§  Diameter : 15 cm
§  Bahan : Plastik berbentuk bola
§  Jumlah : 12 buah per sayap
§  Jarak antar pelampung : 1,5 meter

8.      Pemberat (Sinker): dipasang pada tali ris bagian bawah dengan tujuan agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap berada pada posisinya (dasar perairan) walaupun mendapat pengaruh dari arus.
§  Bahan : Batu
§  Berat : 2 kg
§  Jumlah : 10 buah per sayap
§  Jarak antar pemberat : 8 meter
Secara umum payang yang paling banyak digunakan adalah payang Tegal yang terdiri dari sebuah kantong panjang dan dua buah sayap kiri dan kanan.  Selanjutnya bagian-bagian tersebut dirinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dengan ukuran.
C.      Metode Penangkapan payang
Ayodhya (1981) menyatakan bahwa Prinsip kerja dari jaring payang adalah menangkap ikan disekitar rumpon dengan menggunakan jaring yang memiliki kantong.
Menurut Hakim (2008), prinsip pengoperasian payang dengan melingkarkan sayap-sayap jaring pada gerombolan ikan (misalnya disekitar rumpon) yang sudah dipasang sebelumnya, kemudian jaring ditarik ke arah perahu. 
Teknik Dan Operasi Penangkapan
Penangkapan dengan jaring payang dapat dilakukan baik pada malam maupun siang hari.  Untuk malam hari dengan menggunakan alat bantu lampu petromaks. Penangkapan yang dilakukan pada siang hari menggunakan alat bantu rumpon/payaos (fish aggregating device) atau tanpa menggunakan  alat bantu rumpon, yaitu dengan cara menduga-duga ditempat yang dikira banyak ikan atau mencari gerombolan ikan.
Setelah melakukan kegiatan survey dan mengikuti dalam operasi pengkapan di kapal payang, pada umumnya nelayan jaring payang mulai berangkat melaut pada pagi hari pukul 06.00.
Dengan alat tangkap yang telah tersusun dengan baik di atas kapal maka tiba di fishing  ground ada perbedan  dari proses melingkari gerombolan ikan dengan  tanpa rumpon disini tali sayap yang menghubungkan dengan badan jaring diturunkan ke laut dengan di bawa oleh seorang ABK (Anak Buah Kapal)
1)      Penurunan jaring (setting)
Kapal mengelilingi gerombolan ikan sambil menurunkan jaring setelah melingkari gerombolan ikan selesai.
2)      Penarikan dan pengangkatan jaring (hauling)
Penarikan dan pengangkatan jaring dilakukan dari sisi lambung kapal atau buritan kapal tanpa menggunakan mesin bantu penangkapan dan kedudukan kapal berlabuh jangkar atau kedudukan kapal terapung, agar supaya tidak terjadi gerakan mundur kapal yang berlebihan, diupayakan kapal bergerak maju dengan kecepatan kapal lambat, sesuai beban/kecepatan penarikan payang. 
Armada perikanan payang yang ada di lokasi kajian umumnya dioperasikan oleh usaha perorangan, menggunakan kasko berbahan dasar kayu. Kapal payang yang dioperasikan kapal-kapal payang berukuran kecil (5-20 GT), dengan kekuatan mesin sebesar 16 HP. Operasi penangkapan dilakukan selama satu hari penangkapan atau one day fishing. Menggunakan mesin tempel dan berbahan bakar solar, dengan panjang kapal 10 m.
D.      Daerah penangkapan ikan
Departemen Kelutan dan Perikanan (2006) menyatakan bahwa daerah pengkapan atau fishing ground adalah suatu perairan laut dimana diharapkan ikan-ikan atau hasil laut lainnya yang menjadi sasaran penangkapan dapat tertangkap dalam jumlah maksimal.

Menurut Sadhori (1985), ada empat syarat yang harus dipenuhi dalam menentukan daerah penangkapan yaitu :
1.      Adanya ikan yang akan ditangkap.
2.      Ikan-ikan tersebut dapat ditangkap.
3.      Penangkapan dapat dilakukan secara terus menerus.
4.      Hasil penangkapan tersebut dapat menguntungkan.

Daerah penangkapan untuk alat tangkap payang ini pada perairan yang tidak jauh dari daerah pantai atau daerah yang subur yang tidak terdapat karang.
Pada umumnya alat tangkap payang atau pukat pantai banyak dikenal dan dipergunakan di daerah pantai utara Jawa, Madura, Cilacap, Pangandaran, Labuhan, Palabuhanratu, Marigge (Sumatra Selatan), dan banyak pula digunakan di daerah Jawa serta hasil tangkapan didistribusikan ke wilayah setempat.
Biasanya daerah penangkapan untuk alat tangkap payang ditentukan berdasarkan tanda-tanda alamiah seperti terlihatnya buih-buih di permukaan perairan atau adanya burung yang menyambar-nyambar, namun kebanyakan nelayan menggunakan cara dengan mencoba menurunkan jaring pada daerah yang sudah biasa dijadikan daerah penangkapan oleh nelayan payang di masing-masing daaerah.
E.       Hasil Tangkapan Payang
Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap payang adalah ikan-ikan pelagis yang berenang di dekat permukaan air dengan cara berkelompok (schooling) seperti tuna, cakalang, tongkol, petek (Leiognathus spp), sebelah (Psettodidae), dan jenis jenis udang (Shrimp).  (Ayodhyoa, 1981). 
Hasil tangkapan dari payang terdiri dari berbagai jenis ikan yang biasa digunakan sebagai umpan, seperti : ikan layang (Decapterus sp), ikan kawalinya (Rastrelliger sp), ikan sardin (Sardinella sp), ikan teri (Stelophorus sp), dan ikan lolosi (Caesio sp) (Subani Barus, 1989).

Jenis-jenis ikan yang tertangkap dengan alat tangkap payang adalah laying (decapterus sp), kembung (rastralliger sp), sunglir (eeuthynnus sp), selar (caranx sp), sunglir (elagatis sp), bawal hitam (formio sp). Jadi, umumnya yang tertangkap adalah ikan-ikan yang senang berada di daerah rumpon. Ikan laying merupakan hasil tangkapan yang dominan (Sudirman, 2004).
REFERENSI :
Anonim. 2006. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Ayodhyoa AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Mallawa, A.,Sudirman.2004.Teknik Penangkapan Ikan. Rineka Cipta: Jakarta
Subani, W dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indoensia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut, BPPL, BPPP, Departemen Pertanian, Jakarta.
http://journal.unair.ac.id/media_76.html (diakses pada tanggal 23 april 2014 pukul 18.25)
http://penyuluhkp.blogspot.com/2013/04/alat-tangkap-payang.html (diakses pada tanggal 23 april 2014 pukul 18.12)
http://yogibachtiarpenangkapanpayang-ganteng.blogspot.com/ (diakses pada tanggal 23 april 2014 pukul 18.20)