Jumat, 06 Desember 2013

Winch dan Power Blok sebagai Alat Bantu Penangkapan


NAMA                       : IKE WULANDURI
NIM                            : L23111008
MATA KULIAH       : TEKNOLOGI ALAT BANTU PENANGKAPAN
TUGAS !!!
1.   Winch
Winch adalah sebuah piranti atau alat yang banyak di gunakan untuk menarik beban dengan posisi horizontal.. Winch merupakan mesin bantu yang digunakan untuk menarik tali kerut atau tali kolor penggerakyang digunakan berupa tenaga hidrolik. Tenaga ini paling umum digunakan dan memiliki daya serta bentuk yang besar. Penempatan winch di kapal ada yang di bagian belakang, di bagian depan, adapula ditempatkan di kedua sisi samping kamar kemudi. Pada umumnya dipasang pada kapal-kapal ikan pada skala industri. Trawl winch pada stern trawl terpelihara dari pengaruh angin dan gelombang, dengan demikian dalam cuaca buruk sekalipun operasi masih dapat dilakukan dengan mudah. Merk - merk winch pun mulai bertebaran di pasaran indonesia di antaranya Winch Warn, salah satu merk yang saat ini menjadi ikon tersendiri di kalangan offroader indonesia. Seiring berjalannya waktu winch merk lainpun sudah bisa menjadi second choise sebagai pengganti warn.
2.   Power block
      Power block merupakan mesin bantu yang digunakan untuk menarik jaring pukat cincin dari dalam air ke atas deck kapal. Mesin bantu ini sebagian besar bertenaga hidrolik serta memiliki daya gerak besar. Power block berfungsi pada saat pengepakan alat tangkap yang dimana, alat tangkap yang telah digunakan akan disusun kekiri kekanan dan dengan bantuan ABK alat tangkap disusun dengan rapi diatas kapal penangkapan.


REFERENSI :
http://www.aksesoris4x4.com/12-elecktrik-winch (diakses pada 29 november 2013 pukul 20.35)

Otter Board sebagai Alat Bantu Penangkapan


BAB I
PENDAHULUAN
I.1   LATAR BELAKANG
Kata trawl sendiri berasal dari bahasa Perancis troler dan dalam bahasa Inggris berasal dari kata trailing mempunyai arti yang bersamaan, dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata tarik ataupun mengelilingi seraya menarik. Dari kata “trawl” lahir kata “trawling” yang berarti kerja melakukan operasi penangkapan ikan dengan trawl, dan kata “trawler” yang berarti kapal yang melakukan trawling. Jadi yang dimaksud dengan jaring trawl disini adalah suatu jaring kantong yang ditarik di belakang kapal dalam keadaan berjalan menelusuri permukaan dasar perairan untuk menangkap ikan, udang dan jenis demersal lainnya.
Trawl adalah suatu jaring kantong yang ditarik dibelakang kapal menelusuri permukaan dasar perairan untuk menangkap ikan, udang dan jenis demersal lainnya. Dalam SK Menteri Pertanian Nomor 503/KPTS/UM/1980 dijelaskan bahwa trawl didefinisikan sebagai jenis jaring yang berbentuk kantong yang ditarik oleh sebuah kapal bermotor dan menggunakan sebuah alat pembuka mulut jaring yang disebut gawang (beam) atau sepasang alat pembuka (otter board) dan jaring yang ditarik oleh dua kapal motor. Jenis jaring trawl dikenal dengan pukat harimau, pukat tarik, tangkul tarik, jaring tarik, jaring tarik ikan, pukat Apollo, serta pukat langgai.
Sesuai dengan cara terbukanya mulut jaring, pada dasarnya trawl secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu (Subani dan Barus, 1989):
1.      Otter trawl: terbukanya mulut jaring dikarenakan adanya dua buah papan atau otter board yang dipasang diujung muka kaki/sayap jaring yang prinsipnya menyerupai layang–layang.

2.      Beam trawl: terbukanya mulut jaring dikarenakan bentangan (rentangan) kayu pada mulut jaring.


3.      Pair trawl: terbukanya mulut jaring karena ditarik oleh dua buah kapal yang jalannya sejajar dengan jarak tertentu.
Trawl dasar merupakan pukat kantong berbentuk kerucut dengan mulut lebar yang diberi pemberat pada tali ris bawah (ground rope) dan diberi pelampung pada tali ris atas (Head rope). Pengoperasian trawl terdiri dari persiapan, penurunan jaring (setting), penarikan jaring (towing) dan pengangkatan jaring (hauling). Untuk membantu kelancaran operasi penangkapan pada alat tangkap trawl digunakan beberapa alat bantu. Alat bantu tersebut terdiri dari: fish finder, winch, tackle, boom, gallow, towing block, snatch block, otter board, dan bobbin.
I.2   RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1.      Jelaskan pengertian dan teknik pengoperasian otter board!
2.      Jelaskan dampak terhadap ekosistem

I.3   TUJUAN
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu; Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian dan teknik pengoperasian otter board dan dampak terhadap ekosistem.






BAB II
PEMBAHASAN
II.1     PENGERTIAN


Papan pembuka mulut jaring (Otter board) adalah peralatan yang membantu untuk membuka mulut trawl terbuka pada saat alat dioperasikan (ditarik oleh kapal), karena memberikan gaya horizontal ke sisi luar mulut jaring. Satu unit alat tangkap trawl menggunakan sepasang papan pembuka mulut jaring (Otter board) di sayap kiri dan sayap kanan trawl.
Otterboard berfungsi sebagai pembuka sayap jaring ke arah samping. Besar kecilnya bukaan oterboard ke arah samping ditentukan oleh cara penyetelan tali guci yang ada pada otterboard tersebut. Ukuran otterboard harus disesuaikan dengan ukuran jaring, karena ukuran jaring ditentukan oleh panjang tali ris atas yang juga ditentukan oleh daya motor penggerak, maka besar otterboard dapat dihitung berdasarkan rumus yang berhubungan dengan besarnya daya kuda motor penggerak kapal yaitu :
B : lebar otterboard
P : DK motro penggerak kapal
2B : panjang otterboard

Sedangkan berat otterboard dapat diperhitungkan dengan pedoman sebagai berikut :
Untuk kapal 100 DK ke atas W = 2,7 P

Untuk kapal 66 DK ke atas W = 6,5 P + 400

II.2    TEKNIK PENGOPERASIAN OTTER BOARD
Prinsip kerja papan pembuka mulut jarring (Otter board) pada dasarnya sama dengan layangan di udara, layangan naik ke udara karena adanya gaya yang dibebankan oleh angin, sedangkan pada papan pembuka mulut jaring(Otter board) karena adanya tekanan gaya akibat “gerakan air laut” yang disebabkan oleh bergeraknya papan pembuka mulut jaring (Otter board) di dalam air yang ditarik kapal yang mengoperasikan alat tangkap trawl.
Papan pembuka mulut jaring (Otter board) terbuat dari papan atau baja. Alat tangkap yang berukuran relatif besar (Head rope lebih besar dari 20 m), pada umumnya menggunakan papan pembuka mulut jaring (Otter board) yang terbuat dari baja dan ukuran papan pembuka mulut jaring (Otter board) yang digunakan relatif besar. Alat tangkap trawl yang berukuran relatif kecil masih banyak yang menggunakan papan pembuka mulut jaring (Otter board) yang terbuat dari kayu.


II.3  DAMPAK TERHADAP EKOSISTEM
Hal-hal yang Mempengaruhi Kegagalan Operasi Penangkapan
Pada saat operasi, dapat terjadi hal-hal yang dapat menggagalkan operasi antara lain:
-          Warp terlalu panjang atau speed terlalu lambat atau juga hal lain maka jarring akan mengeruk Lumpur.
-           Jaring tersangkut pada karang/bangkai kapal.
-           Jaring atau tali temali tergulung pada crew.
-          Warp putus.
-          Otter board tidak bekerja dengan baik, misalnya terbenam pada lumpur pada waktu permulaan penarikan dilakukan.
-           Otter board yang sepihak bergerak kearah pihak yang lainnya lalu tergulung kejaring.
-          Ubur-ubur, kerang-kerangan dan lain-lain penuh masuk kedalam jaring, hingga cod end tak mungkin diisiikan lagi.
-          Dan lain sebagainnya.
Dengan adanya hal-hal yang mempengaruhi kegagalan operasi penangkapan pada saat operasi, maka dapat diketahui bersama Karena alat tangkap ini dapat menangkap banyak ikan, namun bukanlah yang menjadi target utama tangkapan. Sehingga banyak ikan yang dibuang. Tidak hanya itu saja, namun banyak karang-karang di dasar perairan yang hancur saat pengoperasian trawl.
Trawl terkenal dengan by-cath atau hasil tangkapan sampingan yang melimpah. Hal ini terjadi karena trawl merupakan alat tangkap ikan yang mampu menangkap berbagai jenis dan ukuran hasil tangkapan. Matsuko by-cath adalah hasil tangakapn yang tidak diinginkan, tidak memiliki kegunaan yang cukup berarti, dan seringkali dibuang kembali ke laut dari saat tertangkap. By-cath dikategorikan sebagai hasil tangkapan dari hewan yang dilindungi yang tidak termasuk target penangkapan, spesies yang merupakan target penangkapan secara prinsip namun penangkapannya dibatasi demi kelangsungan sumberdaya, juvenile dari ikan target penangkapan komersial. Spesies komersial namun dibuang diakibatkan karena kerusakan dan penurunan kualitas, hasil tangkapan bernilai komersial tinggi namun dibuang karena jumlah yang sedikit dari penangkapan dalam satu waktu, spesies yang memiliki nilai komersial rendah dan ikan–ikan yang tidak dianggap oleh manusia dalam pemanfaatan sumberdaya perairan.



BAB III
PENUTUP

III.1   KESIMPULAN
Dari bahan bacaan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Otter board adalah peralatan yang membantu untuk membuka mulut trawl terbuka pada saat alat dioperasikan (ditarik oleh kapal), karena memberikan gaya horizontal ke sisi luar mulut jaring.
2.      Prinsip kerja papan pembuka mulut jarring (Otter board) pada dasarnya sama dengan layangan di udara, layangan naik ke udara karena adanya gaya yang dibebankan oleh angin, sedangkan pada papan pembuka mulut jaring(Otter board) karena adanya tekanan gaya akibat “gerakan air laut” yang disebabkan oleh bergeraknya papan pembuka mulut jaring (Otter board) di dalam air yang ditarik kapal yang mengoperasikan alat tangkap trawl.
3.      Dengan adanya hal-hal yang mempengaruhi kegagalan operasi penangkapan pada saat operasi, maka dapat diketahui bersama alat tangkap ini dapat menangkap banyak ikan, namun bukanlah yang menjadi target utama tangkapan. Sehingga banyak ikan yang dibuang. Tidak hanya itu saja, namun banyak karang-karang di dasar perairan yang hancur saat pengoperasian trawl.



DAFTAR PUSTAKA

http://perikananindonesia.com/alat-tangkap-trawl/ (diakses pada 25 November 2013 pukul 19.25)















Rabu, 27 November 2013

Teknologi Alat Bantu Penangkapan Ikan



LAPORAN PRAKTIKUM
PULAU BALANG LOMPO


TEKNOLOGI ALAT BANTU PENANGKAPAN IKAN
(309L233)




Oleh:

IKE WULANDURI
L23111008


PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013


KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum  Mata Kuliah Teknologi Alat Bantu Penangkapan Ikan.
Laporan ini sebagai hasil praktek lapang terpadu di desa Mattiro Sompe, kab.Pangkep, Sulawesi Selatan pada tanggal 25 – 27 oktober  2013, yang dilakukan oleh Program studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin. Laporan praktikum lapangan yang penulis buat ini berjudul “TEKNOLOGI ALAT BANTU PENANGKAPAN” .Laporan ini dapat diselesaikan dengan adanya kerjasama dan bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak.
Dalam laporan ini masih banyak kekurangan, baik dalam sistematika penyusunan maupun penggunaan kata-kata.Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai cerminan dalam penyusunan laporan berikutnya. Akhirnya kepada Allah jualah kami serahkan semuanya. Semoga laporan ini bisabermanfaat khususnya bagi kelompok kami, umumnya bagi para pembaca. Amin

Makassar,  28 Oktober 2013

PENULIS



DAFTAR ISI
Sampul ........................................................................................................... i
Kata Pengantar.......................................................................................... .... ii
Daftar Isi................................................................................................... .... iii
DESKRIPSI MATA KULIAH................................................................ .... 1
BAB I  PENGANTAR TEORI................................................................ .... 2-3
1.  Klasifikasi Alat Bantu Penangkapan Ikan .................................... .... 2-3     
2.  Teknis Pelaksanaan Praktek .......................................................... .... 3
BAB II METODOLOGI PRAKTEK...................................................... .... 4-5
II.1 Waktu dan Tempat...................................................................... .... 4
II.2 Alat.............................................................................................. .... 4-5
II.3 Metode Pengambilan Data.......................................................... .... 5

BAB III  PEMBAHASAN....................................................................... .... 6-9
III.1 Deskripsikan alat penangkapan yang digunakan ...................... .... 6-7
III.2  Deskripsi Kapal......................................................................... .... 7
III.3  Deskripsi Alat Bantu................................................................. .... 8
III.4  Metode Pengoperasian ............................................................. .... 8-9

BAB IV  PENUTUP................................................................................. .... 10-11
IV.1  Kesimpulan............................................................................... .... 10-11
IV.2 Saran.......................................................................................... .... 11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................... .... 12
Lampiran





DESKRIPSI MATA KULIAH
Nama Matakuliah            :    Teknologi Alat bantu Penangkapan Ikan
Kode Mata kuliah           :    305L233
                                             Semester Ganjil / 3 SKS
Dosen Pengampu            :    1. Muhammad Kurnia, S.Pi, M.Sc, Ph.D
1.      Prof. Dr. Ir. H. Sudirman, M.Pi
2.      Dr. Ir. Alfa Nelwan, M.Si
3.      Dr. Sarifuddin, S.Pi, MP
Deskripsi Matakuliah      :    Membahas mengenai pengertian tentang teknologi alat bantu penangkapan, jenis-jenis alat bantu penangkapan ikan, dan pemanfaatannya dalam operasi penangkapan ikan.
Sasaran Pembelajaran      :    Diharapkan setelah mengikuti praktek lapang mahasiswa :
1.      Mampu menjelaskan pengertian, klasifikasi, jenis-jenis alat bantu penangkapan ikan serta pemanfaatan setiap jenis alat bantu penangkapan pada berbagai alat penangkapan ikan.
2.      Mampu mengidentifikasi berbagai alat bantu penangkapan yang digunakan di atas kapal dan pada alat tangkap dilokasi praktek.
3.      Mengetahui teknik penangkapan ikan dengan berbagai jenis alat bantu penangkapan ikan yang digunakan di kapal dan pada alat tangkap.
Strategi Pembelajaran      :    Kegiatan praktek lapang dilakukan dengan mengikuti operasi penangkapan ikan bersama nelayan dan melakukan wawancara dengan nelayan pemilik ABK kapal yang diikuti.
BAB I
 PENGANTAR TEORI

Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas terbentang dari Sabang hingga ke Merauke dengan jumlah pulau lebih dari 1.700 buah dengan potensi sumberdaya perikanan laut diperkirakan sebesar 6,7 juta ton/tahun dan baru dimanfaatkan sekitar 48% (Dahuri, 1996). Di sepanjang pantai pulau-pulau tersebut, hidup para nelayan yang mencari nafkah dengan menggunakan berbagai ragam alat tangkap dan alat bantu penangkapan ikan.
Untuk memanfaatkan potensi sumberdaya secara maksimal, diperlukan bukan hanya ilmu pengetahuan dan teknologi penangkapan ikan tapi lebih dari itumengoptimalkan pemanfaatan teknologi alat bantu dalam menunjang kegiatan operasi penangkapan ikan.
Teknologi alat bantu penangkapan ikan adalah semua teknologi dan instrumen yang digunakan dalam penangkapan ikan, baik untuk mengumpulkan ikan, mencari keberadaan ikan, menentukan daerah penangkapan, maupun untuk mempermudah pengoperasian alat tangkap
Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya daerah pesisir pantai Barat dapat ditemukan berbagai jenis alat tangkap yang digunakan nelayan maupun industri perikanan. Dimana bentuk, teknik dan alat bantu penangkapan yang digunakan berbeda berdasarkan alat tangkap dan jenis ikan yang menjadi target penangkapan.

1.      Klasifikasi Alat Bantu Penangkapan Ikan
Pada usaha penangkapan ikan, selain faktor teknologi alat (Fishing Gear Technology), metoda penangkapan (Fishing Method), kelimpahan ikan (Abundance) dan area distribusi (Fishing Area), ketrampilan nelayan (Crews), hal yang tidak kalah pentingnya adalah alat bantu penangkapan (Auxillary Fishing Gear). Beberapa jenis alat tangkap dapat meningkat produktivitasnya setelah menggunakan alat bantu penangkapan. Berdasarkan sifat dan fungsinya alat bantu penangkapan digolongkan ke dalam 3 kelompok yaitu :
1)      Alat bantu yang sifatnya mengumpulkan ikan (Aggregating Fish Device) pada suatu tempat sehingga mudah ditangkap. Contoh; rumpon, lampu (permukaan atau bawah air). Alat bantu jenis ini umumnya pasif atau dipasang menetap pada suatu tempat. Aplikasinya dapat dilihat pada purse seine, yang memakai rumpon pada siang hari atau lampu pada malam hari .
2)      Alat bantu yang sifatnya secara langsung mencari keberadaan ikan atau menentukan jenis sumberdaya ikan yang ada di dalam perairan. Contoh; Fish Finder atau Echosounder. Teknologi ini berkembang dengan cepat dan digunakan pada alat tangkap ikan dasar atau ikan tengah perairan. Jaring tarik (trawl) adalah salah satu jenis yang memakai teknologi ini.
3)      Alat bantu yang sifatnya secara tidak langsung dapat membantu menentukan daerah penangkapan ikan. Contohnya, Teknologi Marine Remote Sensing. Teknologi ini dapat membantu nelayan untuk menentukan daerah penangkapan

2.      Teknis Pelaksanaan Praktek
Sebelum pelaksanaan kegiatan di lapangan, dibentuk kelompok kerja mahasiswa dengan jumlah anggota disesuaikan dengan jumlah peserta matakuliah; yang terdiri dari 5 – 10 orang.
Prosedur kerja dilapangan adalah sebagai berikut :
1.        Asisten membentuk kelompok praktikan yang disesuaikan dengan jumlah/jenis alat tangkap yang ada dilokasi praktek.
2.        Setiap praktikan mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan dalam operasi penangkapan termasuk alat tulis menulis.
3.        Setiap praktikan mencari data dan mengidentifikasi alat bantu penangkapan yang digunakan baik yang ada pada alat tangkap sebagai pelengkap maupun yang digunakan di atas kapal perikanan yang ada di lapangan.




BAB II
METODOLOGI PRAKTEK
II.1 Waktu dan Tempat
Praktek lapang terpadu yang dilaksanakan di pulau Balang Lompo desa/ kelurahan Mattiro Sompe Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep dengan fishing base 04o5634.3 S, 119o23’3.94 B pada tanggal 25 Oktober 2013, yang dilakukan oleh Program studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.
II.2 Alat
Adapun alat yang digunakan berupa:
ALAT DAN BAHAN
KEGUNAAN
GPS

Serok                                                    


Jarring 1m x 1m
Basket



Lampu




Roller
digunakan sebagai alat untuk mengetahui posisi fishing base dan fishing Ground.
digunakan sebagai alat bantu penangkapan yangmengankat ikan yang berada di jarring bagan kemudian di naikkan ke kapal untuk di sortir.
untuk menyaring air yang tempat untuk menyortir ikan.
Digunakan sebagai tempat penyimpanan ikan setelah disortir
Digunakan sebagai alat bantu penangkapan
Tempat mengikatkan tali
II.3 Metode Pengambilan Data
Sebelum pelaksanaan praktek dan efektifitas kegiatan dilapangan, maka di bentuk 3 kelompok mahasiswa yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah peserta mata kuliah.  Prosedur kerja dilapangan adalah sebagai berikut:
a.       Eksplorasi ( pengambilan data langsung lapangan)
§  Mahasiswa di bentuk kelompok sesuai jumlah alat yang akan digunakan.
§  Selama mengikuti operasi penangkapan mahasiswa mencatat :
1.      Fishing base
2.      Posisi fishing ground ditentukan berdasarkan hauling
3.      Alat bantu yang digunakan
4.      Cara kerja alat penangkapan
b.      Wawancara (kuisioner)
§  Mahasiswa dibagi menjadi 3 kelompok alat ( Bagan perahu, bubu, dan pancing)
§  Setiap mahasiswa melakukan wawancara pada nelayan







BAB III
PEMBAHASAN

Hasil /Lembaran Kerja I
Jenis Alat Tangkap     : Bagan Perahu
Desa/Kelurahan          : Mattiro Sompe  
Kec./Kab.                   : Liukang Tupabbiring / Pangkep

III.1 Deskripsikan alat penangkapan yang digunakan
Bagan perahu mempunyai konstruksi yang dapat dipindah-pindah (dioperasikan pada berbagai tempat) dengan ditarik menggunakan perahu. Bagan perahu dibuat dari  rangkaian atau susunan bambu  berbentuk segi empat, pada bagian tengah dari bangunan bagan dipasang jaring yang ukurannya 1 meter lebih kecil dari bangunan bagan.
Pada dasarnya alat ini terdiri dari bambu, jaring yang berbentuk persegi empat yang diikatkan pada bingkai yang terbuat dari bambu, pada ke-empat sisinya terdapat bambu-bambu yang melintang dan menyilang dengan maksud untuk memperkuat berdirinya bagan, diatas bangunan bagan di bagian tengah terdapat bangunan rumah yang berfungsi sebagai tempat istirahat, pelindung lampu dari hujan dan tempat untuk melihat ikan.
Prinsip penangkapan alat tangkap Bagan Perahu yaitu mengumpulkan ikan pada suatu tempat dan waktu tertentu dengan menggunakan alat bantu yaitu cahaya. Bagan Perahu memiliki ukuran yang besar dan konstruksinya tampak lebih kokoh serta jumlah lampu yang digunakan lebih banyak (sekitar 30 unit lampu). Satu unit bagan perahu terdiri atas beberapa komponen utama yang saling terkait satu sama lain. Komponen tersebut adalah : perahu, rangka, waring, bingkai jaring, roller, generator set (genset), lampu mercuri, dan rumah bagan.

III.2  Deskripsi Kapal
Gambar 2. Kapal yang digunakan di lokasi Praktek Lapang
Ukuran kapal bagan perahu yaitu; panjang (LOA): 20 m; Lebar: 17 m; dalam 17 m; dalam jarring saat diturunkan : 50 m; isi kotor: 15 GT; kapasitas palkah: 20 basket, 1 basket = 20 kg; mesin induk: Tjandong, kekuatan 2 HP/rpm, jenis bahan bakar solar, pemakaian (ltr/trip) 10 liter; Mesin bantu: Tjandong, kekuatan 2 HP/rpm, jenis bahan bakar solar, pemakaian (ltr/trip) 10 liter; Bahan kapal: kayu ulin dengan jumlah ABK (Anak Buah Kapal): 6 orang yang dimana semuanya memiliki hubungan keluarga.
Konstruksi alat tangkap ini terdiri dari jaring, bambu, pipa besi, tali temali, lampu dan kapal bermesin. Bagian jaring dari bagan ini terbuat dari bahan waring yang dibentuk menjadi kantung. Bagian kantung terdiri dari lembaran-lembaran waring yang dirangkaikan atau dijahit sedemikian rupa sehingga dapat membentuk kantung berbentuk bujur sangkar yang dikarenakan adanya kerangka yang dibentuk oleh bambu.
Bambu anjungan sebagai tiang penggantung bagi penurunan dan penarikan waring. Lampu petromaks berjumlah 26 buah dengan 250 dan 400 watt. Bambu penggulung berdiameter 12 cm dengan panjang 10 m. Tali/tambang berdiameter 08-1 cm dan panjang keseluruhan 204 m yang dihubungkan di setiap ujung persegi bujur sangkar.

III.3  Deskripsi Alat Bantu




 

Gambar 3. sebagai Alat Bantu Penangkapan Ikan.

1.      Menggunakan lampu sebanyak 26 buah lampu yang terdiri dari 20 buah dengan tenaga 400 watt, dan 6 buah dengan tenaga 250 watt.
2.      Roller terdiri dari 7 buah yaitu 2 buah roller utama dan 5 buah roller pembantu.
3.      Serok adalah alat bantu yang digunakan dalam penangkapan ikan yang berfungsi untuk memudahkan dalam pengambilan ikan dari jaring.
4.      Basket berfungsi sebagai wadah hasil tangkapan setelah disortir.

III.4  Metode Pengoperasian
Persiapan menuju fishing ground, biasanya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan persiapan terhadap segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pengoperasian bagan perahu. Pemeriksaan dan perbaikan terutama dilakukan terhadap lampu dan mesin kapal. Persiapan lain yang dianggap penting adalah kebutuhan perbekalan operasi penangkapan seperti air tawar, solar, minyak tanah, garam dan bahan makanan. Para ABK mulai mengecek jarring, lampu, dan juragan (kapten kapal) mengamati perairan yang berada di bagian bawah kapal.
Pukul 18.08, kapal tiba di fishing ground antara 5 -10 menit. Secara tradisional nelayan dapat mengetahui adanya gerombolan ikan dengan adanya tanda-tanda alam sebagai berikut : Adanya buih/busa diatas permukaan air laut; Adanya perubahan warna permukaan air laut; Adanya riak kecil diatas permukaan air laut akibat aktivitas gerak ikan. Adanya tanda-tanda tersebut diatas, maka dengan mudah para nelayan bisa mengetahui letak gerombolan ikan yang ada diperairan.
Sebelum diturunkan, lampu yang mengelilingi bagan perahu di bagian luar di nyalakan. Jaring diturunkan dari buritan kiri dibawa ke haluan dan ke samping, di tarik ke samping kanan. Pada bagian kiri, jarring mulai diikat pada roll panjang dan besar. Jarring diikat mengelilingi bagan dengan model bingkai dan tali diikatkan ke roll kecil yang berada disisi kanan kiri dan depan belakang bagan.
Secara tradisional nelayan dapat mengetahui adanya gerombolan ikan dengan adanya tanda-tanda alam sebagai berikut : Adanya buih/busa diatas permukaan air laut; Adanya perubahan warna permukaan air laut; Adanya riak kecil diatas permukaan air laut akibat aktivitas gerak ikan. Adanya tanda-tanda tersebut diatas, maka dengan mudah para nelayan bisa mengetahui letak gerombolan ikan yang ada diperairan.
Pada pukul 19.12 lampu kuning disisi kanan dan kiri kapal dinyalakan. Beberapa menit kemudian, pukul 20.02 lampu belakang dimatikan, lampu 1 dari belakang mati, 2 dari belakang mati, lampu 1 dari depan mati. Kiri dan kanan mati. 2 dari depan kiri dan kanan mati, 1  dibagian depan tetap menyala. Beberapa menit kemudian, lampu depan dimatikan. Ikan difokuskan dengan lampu bagian.
Jarring di angkat dan tarik dari sisi kiri ke sisi kanan. Dengan bantuan serok, ikan yang di jarring waring dinaikkan keatas tempat yang terbuat dari jarring dan di buat box dengan ukuran 1m x 1m yang berfungsi sebagai tempat nelayan menyaring ikan, sehingga airnya turun. Saat ikan sudah diangkat semua dari jarring waring, nelayan mulai menyortir ikan dari beda jenis sampai ukuran ikan masing-masing jenis.







BAB IV
PENUTUP
IV.1  Kesimpulan
Setelah melakukan praktek lapang ini, dapat disimpulkan bahwa:
1.      Prinsip penangkapan alat tangkap Bagan Perahu yaitu mengumpulkan ikan pada suatu tempat dan waktu tertentu dengan menggunakan alat bantu yaitu cahaya. Bagan Perahu memiliki ukuran yang besar dan konstruksinya tampak lebih kokoh serta jumlah lampu yang digunakan lebih banyak (sekitar 30 unit lampu). Satu unit bagan perahu terdiri atas beberapa komponen utama yang saling terkait satu sama lain. Komponen tersebut adalah : perahu, rangka, waring, bingkai jaring, roller, generator set (genset), lampu mercuri, dan rumah bagan.
2.      Ukuran kapal bagan perahu yaitu; panjang (LOA): 20 m; Lebar: 17 m; dalam 17 m; dalam jarring saat diturunkan : 50 m; isi kotor: 15 GT; kapasitas palkah: 20 basket, 1 basket = 20 kg; mesin induk: Tjandong, kekuatan 2 HP/rpm, jenis bahan bakar solar, pemakaian (ltr/trip) 10 liter; Mesin bantu: Tjandong, kekuatan 2 HP/rpm, jenis bahan bakar solar, pemakaian (ltr/trip) 10 liter; Bahan kapal: kayu ulin dengan jumlah ABK (Anak Buah Kapal): 6 orang yang dimana semuanya memiliki hubungan keluarga.
3.      Persiapan menuju fishing ground, biasanya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan persiapan terhadap segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pengoperasian bagan perahu. Pemeriksaan dan perbaikan terutama dilakukan terhadap lampu dan mesin kapal. Persiapan lain yang dianggap penting adalah kebutuhan perbekalan operasi penangkapan seperti air tawar, solar, minyak tanah, garam dan bahan makanan. Para ABK mulai mengecek jarring, lampu, dan juragan (kapten kapal) mengamati perairan yang berada di bagian bawah kapal.


IV.2 Saran
-          Untuk  Praktek Lapang: Sebaiknya teknologi alat bantu seperti echosounder dapat digunakan saat melakukan praktek lapang, agar kami mahasiswa juga mengetahui cara kerja echosounder secara langsung.
-          Untuk Mata Kuliah: Cara belajarnya sangat baik sehingga kami mengerti mata kuliah teknologi alat bantu penangkapan dengan jelas.

















DAFTAR PUSTAKA
Atmaja SB Dan Haluan J. 2003. Perubahan Hasil Tangkapan Lestari Ikan Pelagis di Laut Jawa dan Sekitarnya. Buletin PSP. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.  
Ayodhyoa AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 81 hal.